Syarat Kepemimpinan Purwakarta Selanjutnya Harus Pituin atau Bukan Pituin ?

Aa Komara baju putih) dan Pusaka Peninggalan Dalem Sholawat bersama Generasi ke 7 dari Dalem Sholawat : Raden Muhammad Padmanegara dalam moment Ziarah di Bogor.
  • Oleh : Aa Komara Cakradiparta¬†

Kurang lebih 1 tahun mendatang Suksesi Kepemimpinan Purwakarta akan digelar. Meski tahapan Pilkada 2024 belum dimulai, dinamika menuju perhelatan tersebut mulai menghangat, baik di ruang ruang obrolan masyarakat demikian pula di medsos.

Sejumlah nama nama mulai bertebaran bahkan beberapa sudah mencoba mencakapkan diri sebagai kandidat Bupati Purwakarta selanjutnya dengan sejumlah iklan perkenalan diri baik di sosial media maupun di ruang ruang publik.

Aa Komara memberikan Piagam Penghargaan BELA PURWAKARTA kepada Generasi ke 7 dari Dalem Sholawat : Raden Muhammad Padmanegara, dalam moment Ziarah di Bogor.

Di sejumlah platform media komunikasi dan di ruang obrolan publik mulai mengemuka kembali -opini ini selalu mewarnai pada pilkada pilkada sebelumnya- , yaitu adanya wacana kepatutan calon bupati Purwakarta antara pituin atau bukan pituin.

Menanggapi hal tersebut, penulis ingin memberikan sudut pandangnya.

Definisi Putra Daerah atau Pituin ini harus diperjelas apakah seseorang bisa mengklaim dirinya adalah seorang pituin, misal karena ia lahir di Purwakarta atau jika berdasarkan garis keturunan / nasab, bagaimana parameter untuk menentukan sebuah keluarga dianggap sebagai klan Putra Asli Purwakarta ( berdarah Purwakarta ), apakah dilihat seberapa lama tinggal di Purwakarta.

Pada tahun 2002, atau 21 tahun yang lalu, saya berada dalam jajaran Presidium GM-PDP, Generasi Muda Putra Daerah Purwakarta yang merupakan koalisi dari berbagai komponen kepemudaan di bawah naungan BAMUS PDP, Badan Musyawarah Putra Daerah Purwakarta yang dikomandani oleh seorang “pituin” yang bernama Mayjen TNI Dede Hatta Permana, seorang pensiunan dan pernah menjabat sebagai Bupati Toli Toli , Sulawesi Tengah, yang paling disepuhkan oleh stake holder Purwakarta saat itu termasuk dihormati oleh Bupati Purwakarta ketika itu, yaitu Drs. H. Bunyamin Dudih.

BAMUS PDP saat itu menjadi “Rumah Bersama” baik bagi aparatur pemerintahan Purwakarta maupun bagi jajaran elemen kemasyarakatan.

Suatu ketika, saya dan pengurus Presidium GM-PDP, Deni Ahmad Haidar -sekarang Ketua GP Ansor Jawa Barat- ditugaskan sebagai O.C. / Organizing Commitee untuk kegiatan silaturahmi akbar BAMUS PDP yang bertajuk SARESEHAN TOKOH TOKOH PURWAKARTA.

Kami, pihak O.C., sebelum kegiatan berkeliling Jawa Barat dan wilayah DKI, untuk menyampaikan undangan ke sejumlah tokoh asal Purwakarta.

Saresehan digelar di gedung UPI / PGSD jalan veteran, pembicara yang hadir saat itu diantaranya Kang Dani Setiawan ( Gubernur Jawa Barat 2003 – 2008 , saat itu menjabat Sekda Prov. Jabar ) dan Kang Sudarna T.M. ( Bupati Purwakarta 1983 – 1993, saat itu menjabat sebagai Wakil Gubernur Jawa Barat )

Acara dihadiri oleh Bupati Purwakarta beserta jajaran, Ketua DPRD dan para anggota legislatif dan tentunya para Tokoh Purwakarta baik yang berdomisili di Purwakarta maupun yang tersebar di berbagai kota di Nusantara.

Saya dan Deni Ahmad Haidar didapuk sebagai Moderator Saresehan.
Saat itu Kami merasakan betapa BAMUS PDP menjadi Keluarga Besar yang sangat diperhitungkan sekaligus dihormati. Tak jarang Bupati Purwakarta begitu pun DPRD ketika hendak mengeluarkan kebijakan berkonsultasi terlebih dahulu dengan pengurus BAMUS PDP.

Baca Juga:  Kolaborasikan Konservasi Alam dan Pemberdayaan Masyarakat di Hari Air Sedunia

Hal ini tak lepas dari pemahaman saat itu bahwa BAMUS PDP adalah Rumah Bersama, selain tentunya para pengurusnya notabene diantaranya adalah jajaran para sesepuh Purwakarta yang memang sepatutnya dimintai nasehat / wejangannya.

Saat itu BAMUS PDP menerbitkan standard / kriteria yang dimaksud PUTRA DAERAH atau PITUIN itu berdasarkan lamanya tinggal / berdomisili di Purwakarta bukan berdasarkan kelahiran. Oleh sebab itu keberadaan BAMUS PDP yang akomodatif tersebut semakin memperbesar pengaruhnya di Purwakarta hingga membentuk kepengurusan di tingkat kecamatan dan di luar kabupaten.

Makna PITUIN PURWAKARTA jika kita runut berdasarkan kesejarahan nama Purwakarta sendiri, maka yang disebut Pituin adalah yang terlahir sejak tahun 1831 yaitu pada saat Sang Pendiri Purwakarta, Dalem Sholawat atau R.A.A. Suria Winata memberikan nama PURWAKARTA sebagai pengganti nama Sindang Kasih.

Namun sang tokoh sendiri, Dalem Sholawat bersama sepupunya, Syekh Baing Yusuf, pendiri Masjid Agung Purwakarta dan ulama besar saat itu, keduanya berasal dari Bogor, yang bernasab juga ke Dalem Cikundul, Pendiri Cianjur, lalu ke Aria Wangsa Goparana, Sunan Sagala Herang, Subang, lalu ke Prabu Pucuk Umun, Raja Talaga, Majalengka, kemudian ke Prabu Siliwangi, penguasa Kerajaan Pajajaran yang wilayahnya saat itu meliputi Jawa Barat hari ini, termasuk Provinsi Banten.

Dari pihak nenek, Dalem Sholawat bernasab ke Sultan Maulana Hasanudin, Pendiri Kesultanan Banten, putra dari Sunan Gunung Jati, Sultan Cirebon ke 2 dan salah seorang Wali Songo yang bernasab ke Rasulullah S.A.W.

Para leluhur Purwakarta lainnya seperti Syekh Tubagus Ahmad Bakri atau Mama Sempur Plered ( lahir di Citeko, Plered tahun 1839 ) keturunan dari Kesultanan Banten, juga bernasab ke Sunan Gunung Jati lalu ke Rasulullah S.A.W.

Eyang Dalem Gandasoli, di Plered, keberadaannya lebih tua, jauh sebelum Purwakarta didirikan oleh Dalem Sholawat.

Beliau berasal dari Kesultanan Mataram ( saat itu sedang dalam misi penugasan dari Sultan Agung Mataram menyerang ke Batavia ).

Rentang waktunya sekitar 200 tahun. Eyang Dalem Gandasoli tahun1628 membuka kawasan yang sekarang menjadi desa tertua di Plered, kemudian menyebarkan syi’ar Islam di seputar kawasan tersebut. Sementara Purwakarta didirikan Dalem Sholawat, melewati 200 tahun kemudian ( 1831 ).

Wilayah Wanayasa yang kita kenal sekarang dengan kultur Sunda nya yang kental, dahulu banyak ditinggali oleh prajurit dan pembesar kerajaan Mataram, besar kemungkinan penduduk Wanayasa sekarang yang berkultur Sunda juga memiliki darah dari Mataram yang berkultur Jawa.

Pada tahun 2006, saya dan tim penelusuran kesejarahan Purwakarta banyak menemukan makam makam tertua di Purwakarta, umumnya tokoh tokoh tersebut berasal dari Kesultanan Banten, Kesultanan Cirebon, Kesultanan Mataram, dan Kerajaan Pajajaran.

Hal ini menguatkan wilayah Purwakarta dari sejak dulu merupakan wilayah perlintasan.